MEDIAAKTUAL.COM – TAKALAR :
Salah satu poin utama program prioritas Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau dan ekonomi biru.
Mengimplementasikannya, Kementerian Pertanian menggagas program yang Irigasi Perpompaan (IRPOM) serta Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) untuk menopang dan mewunudkan ketahanan dan swasembada pangan nasional.
Bagi penulis, sejak adanya pembangunan
Proyek Irigasi Perpompaan ini memiliki dua sisi pandang yang kontras di tengah masyarakat khususnya di kalangan petani.
Pertama, dari sisi positif, Tujuan dan Manfaatnya, IRPOM ini dinilai sangat membantu petani mengatasi krisis air akibat kemarau atau ancaman El Nino.
Artinya, Petani tidak perlu lagi menunggu lama giliran air dari pintu dam, karena air dapat dipompa langsung dari sumber terdekat ke lahan sawah.
Selain itu, dengan pemenuhan infrastruktur pertanian ini maka ketersediaan air akan lebih lancar dan frekuensi tanam dalam setahun berpotensi meningkat.
Kedua, aspek negatifnya, tentu memunculkan beragam masalah yang terjadi di Lapangan.
Seperti adanya dugaan pungli, pemotongan anggaran dan permintaan Fee dari nilai anggaran proyek.
Kenapa terjadi seperti itu, hemat penulis disebabkan adanya masalah Teknis Lokasi yang Kurang Tepat.
Contohnya, adanya bangunan sumur bor atau instalasi IRPOM yang dinilai kurang pas secara teknis.
Kendala lainnya, kurangnya transparansi dengan tidak memasang papan informasi proyek sehingga pengawasan publik menjadi lemah.
Sebagai konklusi, penulis melihat secara konsep dan teknis agronomi, IRPOM adalah program yang sangat dibutuhkan untuk memperkuat ketahanan pangan. Dalam arti, pelaksanaannya sering kali ternoda lantaran tersaruk lemahnya pengawasan, ketidaksesuaian spesifikasi teknis di lapangan serta dugaan penyelewengan anggaran oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Nah, fenomena inilah yang banyak menodai terjadinya penyimpangan pembangunan proyek IRPOM di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk yang ada di wilayah Kabupaten Gowa dan Takalar Sulsel.
PENULIS : Pegiat LSM
Langsung ke konten














