MEDIAAKTUAL.COM – TAKALAR :
Proyek revitalisasi TK RA Kartini, Desa Bontosunggu, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar diduga dikerjakan tidak sesuai RAB dan spesifikasi teknis.
Sorotan publik, mengarah pada penggunaan besi beton untuk tiang kolom yang diduga jauh di bawah standar SNI.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Kamis 10/9/2026, besi yang terpasang pada struktur tiang kolom diduga tidak sesuai spesifikasi.
Padahal, kekuatan bangunan pendidikan anak usia dini sangat bergantung pada struktur utama tersebut.
“Ini jelas janggal. Kalau diukur dan dilihat kasat mata, mutunya tidak masuk SNI. Ini gedung anak-anak. Bisa bahaya kalau ada gempa atau angin kencang,” sorot seorang warga yang juga berprofesi sebagai tukang bangunan.
Warga menduga kuat terjadi pemangkasan spesifikasi atau mark up material pada proyek yang bersumber dari dana pemerintah tersebut.
“Di RAB pasti tertulis besi beton SNI diameter 8. Tapi faktanya di lapangan, setelah diukur hanya 5,3 mm. Selisihnya jauh. Kalau dari awal sudah main material, bagaimana mutu bangunannya? Yang dirugikan anak-anak kita,” tegasnya dengan nada kecewa.
Tidak hanya diameter besi, warga juga menyoroti jarak sengkang/begel yang tidak sesuai RAB.
“Jaraknya terlalu renggang. Seharusnya rapat untuk menahan gempa. Ini juga asal pasang,” tambahnya.
Kekhawatiran semakin besar karena tiang kolom merupakan struktur utama penyangga bangunan. Jika materialnya di bawah standar, bangunan rawan retak hingga roboh.
Saat dikonfirmasi di lokasi, Ketua Yayasan Daeng Lira awalnya menyebut menggunakan besi diameter 8. Namun setelah diukur di hadapannya, besi yang terpasang hanya berdiameter 5,3 mm.
Ironisnya, Kepala Sekolah dan Ketua P2SP tidak berada di lokasi saat ingin dikonfirmasi.
Upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp kepada Kepala Sekolah juga belum mendapat respon hingga berita ini ditayangkan.
Menyikapi temuan ini, Divisi Investigasi LSM PERAK mendesak Aparat Penegak Hukum, Dinas Pendidikan, dan Inspektorat Kabupaten Takalar segera turun melakukan audit fisik dan uji laboratorium.
“Ini dana negara. Jangan dikerjakan asal jadi. Kami minta APH usut tuntas sampai ke akar-akarnya. Jangan sampai ada kerugian negara dan yang jadi korban anak-anak,” tegasnya.
Warga juga meminta agar proyek dibongkar dan dikerjakan ulang jika terbukti tidak sesuai RAB.
“Jangan tunggu sampai terjadi korban. Tolong dibongkar RAB-nya, diukur ulang materialnya,” pintanya.
Hingga berita ini tayang, pihak pelaksana proyek dan konsultan pengawas belum dapat dimintai keterangan.(Timred)
Langsung ke konten














