MEDIAAKTUAL.COM – MAKASSAR :
Strategi marketing seorang Sales, memang penuh bumbu pemanis diawal untuk memikat hati konsumen.
Namun, jika belakangan terbentur masalah maka janji manis itu akan menuai pahit.
Kondisi itulah, dialami dan dirasakan seorang warga bernama Ridha, calon konsumen yang telah melakukan transaksi pengadaan hunian modern yang dibangun sebuah perusahaan pengembang ternama (PT.GMTD-Lippo Grup) di Kawasan Tanjung Bunga Makassar Sulsel.
Dengan trik meyakinkan tenaga Sales Leader bernama Andryadi, rupanya memikat hati calon konsumen Ridha, perempuan yang berdomisili di Jalan Sungguminasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.
Pada pertemuan tanggal 17 Mei 2025, disepakati membuat Surat Pernyataan diatas kertas bermaterai.
Rumah hunian (KPR) yang disepakati itu adalah hunian Klaster Cendana Atmosphere (KPR).
Belakangan, pihak Ridha membatalkan karena berbagai pertimbangan keluarga.
Untuk diketahui, dalam surat pernyataan tersebut, ditandatangangi Sales Leader Andryadi dan Sales Irma Dwi Lestari, mewakili perusahaan pengembangm
Sementara, pihak konsumen (pembeli) yaitu Ridha bersama Saksi Firman.
Esok harinya (18/5/2025), ungkap Ridha, dia menstransfer uang melalui Bank NOBU, sebesar Rp.10.000.000 juta atas nama KSO Rancang Komunika Mand.
“Dalam surat pernyataan itu, sangat jelas keabsahannya, jika konsumen mundur maka Sales Andryadi ini berjanji akan merefund atau mengembalikan uang secara full. Janjinya, akan dibayar atau dikembalikan pada tanggal 23 Mei 2025. Nah, saya beri waktu lama dan menunggu, tapi Andryadi ini berkelit bak ingin cuci tangan dan bermacam-macam alasan. Saya desak dan terus mendesak, eh rupanya hanya mau membayar Rp.6.000.000, dengan cara mengangsur Rp.200 ribu perbulan selama 7 tahun. Inilah yang tidak logis dan rasional. Masa saya DP Rp.10 juta kok mau sunat jadi Rp.6 juta. Soal waktu, lumayan itu bisa cari ngumpulkan uang untuk merefund full. Intinya, meskipun uang DP masuk di rekening perusahaan tapi Sales Andryadi ini harus bertanggung jawab penuh,” tukas Ridha dengan mimik geram.
Kekesalan Ridha pun memuncak, lantaran Andryadi ini tidak konsisten, komitmen dengan janjinya, bicara plin-plan dan tidak ksatria berkomunikasi orang yang dikorbankan.
“Dia harus tahu, mengacu pada surat pernyataan yang dia tulis malam itu, dengan sadar menjamin dan menggaransi mengembalikan uang DP yang saya transfer. Saya dengar dia mau tuntut balik, silahkan saja, apa dasarnya. Justeru Andryadi ini harus tahu diri sebelum saya somasi dan mendatangi kantornya. Jangan-jangan masalah ini selalu ditutup-tutupi doang, sementara ‘menodai’ alias merusak nama baik perusahaan pengembang, tempatnya bekerja,” ujarnya.
Terkait kasus ini, Sales Andryadi membenarkan adanya transferan dana Rp10 juta sebagai uang simpanan dari Ridha, tapi bukan masuk ke rekening pribadinya.
“Secara moral, saya memang bertanggung jawab dan akan mengembalikan (refund) full uang DP itu. Hanya memang, Ridha ini (konsumen) ini harus bijak dan tahu juga posisi saya, cuma sales, tentu kemampuan saya terbatas. Niat saya mau membayar tapi mengangsur Rp.200- Rp300 ribu sebulan. Itupun, saya akan patungan dengan teman Sales lain. Jadi, bukan mau menghindar tapi beginilah kemampuan saya,” timpal Andryadi, saat dikonfirmasi via telepon selular, beberapa waktu lalu.
Nah, respons Andryadi yang kebablasan dan ngawur inilah, memicu tensi mendidih pihak korban Ridha.
Pasalnya, kata Ridha, pengembalian uang DP itu, janjinya cuma dua minggu lunas.
Tapi, kenyataannya sengaja mengulur-ulur waktu tanpa ada kejelasan.
Seberapa hebatnya ‘drama’ yang dimainkan Andryadi dalam kasus ini hingga mengingkari tanggungjawabnya merefund full uang DP Calon Konsumen? Entahlah.!
Yang pasti, Ridha sebagai pihak yang dikorbankan berkomitmen terus berjuang sampai dananya kembali.
Kalau memang tidak ada solusi konkret, katanya, dia akan melakukan aksi demo, karena dasarnya ada surat pernyataan yang dipegang dan dibuat sendiri dua orang Sales yaitu Andryadi dan Irma Dwi Lestari
“Dugaan saya, jangan sampai masalah ini, sengaja ditutup-tutupi Andryadi, tanpa diketahui perusahaan pengembang. Nah, kita lihat saja, bagaimana merealisasikan tanggungjawabnya,” tukasnya. (Timred)
Langsung ke konten














