Oleh : Asman Djasmin
MEDIAAKTUAL.COM – MAKASSAR :
Sejarah seni rupa terlalu lama dijajah oleh obsesi terhadap bentuk. Standar akademis, proporsi ideal, dan harmoni warna telah mendirikan penjara-penjara visual yang memaksa seniman untuk terus-menerus memproduksi keindahan superfisial.
Namun, ketika seni direduksi menjadi sekadar pencapaian keterampilan mekanis (skill), ia kehilangan fungsi esensialnya sebagai medium pencarian kebenaran.
Dalam ekosistem seni kontemporer, keterikatan pada estetika formal tidak lagi relevan; gagasan telah mengambil alih takhta, dan kebenaran menuntut bahasa yang lebih telanjang.
Penolakan terhadap kemapanan bentuk ini menemukan pijakan filosofisnya yang paling dalam pada pemikiran Jalaluddin Rumi. Bagi Rumi, dunia fisik dan segala aturan bentuknya (surat) hanyalah cangkang, sementara kebenaran sejati terletak pada esensi atau makna (ma’na) di baliknya.
Terlalu mengagungkan bentuk berarti membiarkan diri mati kelaparan sambil memeluk kulit kacang yang kosong.
Dalam konteks penciptaan, “Anti-Estetika” bukanlah ketidakmampuan teknis atau karya yang sekadar asal jadi, tapi sebuah keputusan sadar dan pemberontakan intelektual untuk menghancurkan cangkang tersebut agar makna dapat meluap keluar.
Estetika seringkali bertindak sebagai kosmetik yang menutupi realitas emosional. Rumi pernah menulis, “Luka adalah tempat di mana cahaya memasukimu.”
Metafora ini adalah landasan murni dari praktik anti-estetika. Coretan yang kasar, warna yang saling menabrak, dan kanvas yang dibiarkan seolah belum selesai bukanlah sebuah kegagalan teknis, melainkan “luka” yang sengaja ditorehkan.
Melalui ketidaksempurnaan dan dekonstruksi bentuk itulah, kejujuran spiritual dari sebuah karya—kegelisahan, kritik, dan kengerian realitas—memancar keluar tanpa disensor oleh kewajiban untuk memanjakan mata.
Dialektika antara bentuk yang hancur dan makna yang lahir ini secara tajam tervisualisasi dalam pergolakan antara tradisi dan modernitas.
Modernitas tidak hanya mengubah lanskap komunikasi, tetapi secara senyap mengamputasi spiritualitas sentuhan antarmanusia.
Narasi ini terejawantahkan dalam trilogi Sisa Sentuhan, yang membongkar ilusi teknologi melalui tiga fase kesadaran:
Pada fase Tesis (Genggaman Erat), koneksi fisik manusia yang berakar pada tradisi tidak dihadirkan secara romantis atau proporsional.
Energi mentah dari hubungan manusia divisualisasikan melalui goresan kasar dan impasto yang tebal; berantakan dan penuh gesekan, namun sangat nyata dan bernyawa.
Memasuki fase Antitesis (Intervensi Layar), bentuk manusia dihadapkan pada kekosongan.
Distraksi teknologi tidak dilukiskan secara harfiah melalui gawai, melainkan lewat intervensi warna-warna artifisial yang steril dan menyilaukan, yang secara brutal menabrak komposisi.
Ruang kanvas menjadi hampa, mengkritik bagaimana teknologi menyerap ruh manusia dan hanya menyisakan fisik yang terisolasi.
Fase Sintesis (Kesadaran Kembali) menjadi ruang di mana “luka” Rumi benar-benar terbuka, bagaikan kanvas yang menanggung bekas sayatan dari perbenturan sebelumnya.
Kesadaran manusia mungkin berhasil diraih kembali, tetapi sisa sentuhan itu tidak lagi utuh.
Melalui kecacatan dan luka pada kanvas, kebenaran baru ditegaskan: bahwa manusia masa kini harus hidup dengan jejak keterasingan tersebut.
*Simpulan*
Teknik dan keindahan formal pada akhirnya hanyalah alat, dan ketika alat tersebut mulai mendikte kebenaran, ia harus dihancurkan.
Pendekatan anti-estetika mengembalikan seni pada fitrahnya sebagai medium spiritual dan intelektual.
Dengan menelanjangi bentuk, menolak harmoni yang palsu, dan merangkul luka, karya seni berhenti menjadi objek dekoratif dan kembali menjadi cermin paling jujur bagi esensi kemanusiaan.(red)
Langsung ke konten














