MEDIAAKTUAL.COM – MAKASSAR :
Masuk nominasi lima besar sebagai daerah lumbung pangan nasional, membuktikan kinerja Perum Bulog Wilayah Sulselbar patut diapresiasi.
Berdasarkan data yang ada, saat ini konsumsi beras warga Sulawesi Selatan (Sulsel) rata-rata 80 ribu ton per bulan dengan jumlah penduduk sebanyak kurang lebih 9,5 juta orang.
Dari data tersebut, Bulog Sulselbar memastikan bahwa stok beras di Sulsel aman dan terkendali.
Amannya stok beras tersebut, dibenarkan Pimpinan Bulog Wilayah Sulselbar, Fahrurozi.
Dia menyebut, stok saat ini sebanyak 700 ribu ton dan mampu bertahan selama 10 bulan kedepan.
“Kan penduduk Sulsel kurang lebih 9,5 juta jiwa, konsumsi per jiwa itu 140 kg per tahun, artinya rata-rata 80 ribu ton per bulan dengan jumlah penduduk 9,5 juta,” ungkapnya ke media, beberapa hari lalu
Fahrurozi mengatakan, pada Bulan April ini, akan masuk musim panen raya di sejumlah daerah.
“Kita akan maksimalkan menyerap beras petani, dan ini tentu membuat kebutuhan pangan kita aman,” katanya.
Dia pun menyebut, setiap harinya Bulog menyalurkan beras SPHP sebanyak 200 ton dalam sehari di Sulsel.
Adapun daerah terbanyak konsumsi beras adalah Makassar dengan jumlah 161.435,19 ton per tahun.
Selanjutnya, Kabupaten Bone 161.435,19 ton dan Gowa sebanyak 161.435,19 ton.
“Untuk produksi beras di Sulsel sepanjang 2025 mencatat lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya,” terang Pimwil Bulog Sullselbar.
Disebutkan, Produksi beras pada 2025 mencapai 3,14 juta ton, meningkat 371,94 ribu ton atau 13,45 persen dibandingkan capaian 2024 yang sebesar 2,76 juta ton.
“Produksi beras terbesar 2025 terjadi pada April, dengan total produksi mencapai 667,67 ribu ton. Sebaliknya, produksi terendah tercatat pada Januari, yang hanya sebesar 34,55 ribu ton,” tukas Fahrurozi merinci.
Soroti Harga Beras
Melihat produksi beras yang cukup signifikan di wilayah Sulselbar, toh disisi lain justeru masih menyulitkan dan mengerutkan dahi sebagian masyarakat kecil untuk membeli gegara harga tidak stabil dipasaran.
Artinya, Bulog memang kerap menyalurkan beras SPHP melalui program Gerakan Pangan Murah, tapi itu sifatnya insidentil.
“Bisa dibayangkan Pak, kebutuhan pokok sehari-hari, sebelum dan sesudah lebaran ini, semua harga melambung tinggi, termasuk harga beras, gula dan terigu. Kita ini masyarakat kecil yang kerja serabutan, maunya dibantu dengan harga beras bermutu tapi yang murah. Nah, cobamaki ke pasar-pasar cek harga, adaji memang nilai Rp.10.000 ribuan tapi warna dan baunya dehh ampun, terpaksa mami dibeli dari pada perut keroncongan. Maunya itu Bulog, kalau stok beras sudah melimpah yah turunkan-stabilkan juga harga supaya bisa dijangkau masyarakat yang hidupnya serba pas-pasan. Kalau begini-begini terus, sessajaki,” keluh Marniati Daeng Rannu dengan mimik memelas.
Mengonfirmasi ke pihak Bulog Sulselbar, tidak berhasil gegara Pimwil maupun Humas tidak berada di tempat.
EDITOR : Redaksi
Langsung ke konten














