MEDIAAKTUAL.COM – MAKASSAR :
Menepati janji perjuangan, BEM se-Universitas Bosowa kembali turun ke jalan dalam Aksi Jilid II.
Aksi ini, sebagai bentuk respons terhadap kondisi sosial yang semakin mencekam.
Evaluasi 100 hari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dianggap gagal menuntaskan problematika rakyat menjadi pemicu utama gerakan ini.
Sangat disayangkan, aksi kedua ini lagi-lagi DPRD Sulsel menunjukkan ketidak peduliannya dengan tidak menghadirkan satupun anggotanya untuk menemui massa aksi. Ini menjadi bukti bahwa mereka mengingkari janji yang sebelumnya disampaikan.
Kendati kecewa, massa BEM Unibos tetap menggaungkan 4 tuntutan mencakup:
– Kebijakan penjualan gas LPG yang membebani masyarakat kecil.
– Pembentukan lembaga Danaantara yang tidak transparan.
– Dalih “efisiensi” anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga mengorbankan kepentingan rakyat demi kepentingan elite.
– Undang-Undang Perampasan Aset yang berpotensi disalah gunakan dan mengancam kepentingan rakyat dengan mekanisme yang tidak jelas serta rawan penyalahgunaan wewenang.
Andrew Hubert, Koordinator Aksi mengaku, pihaknya melihat kebijakan pemerintah saat ini lebih cenderung menguntungkan segelintir pihak dan bukan untuk kepentingan masyarakat luas. ‘Negara ini sedang menuju ke arah yang berbahaya jika suara rakyat terus diabaikan. Kami tidak akan diam,” tegasnya histeris.
Rasa kecewaan kian memuncak ketika massa aksi mendapati bahwa untuk kedua kalinya, DPRD Sulsel absen dari tanggung jawabnya. “Mereka adalah wakil rakyat, tapi di saat rakyat membutuhkan, mereka selalu tidak ada. Ini bentuk nyata pengabaian terhadap demokrasi,” sorot, seorang orator.
Sebagai bentuk protes, massa aksi kembali menduduki Jl. Urip Sumohardjo hingga malam hari. Orasi dan pembacaan pernyataan sikap terus menggema sebagai bukti keteguhan perjuangan mahasiswa.
Mengingat pengabaian yang terus berulang, kami menegaskan bahwa gerakan ini belum akan berakhir. Rencananya, Senin 24 Februari 2025, massa akan kembali dengan jumlah massa yang lebih besar dan dengan tuntutan yang lebih keras.
DPRD Sulsel harus bertanggung jawab!
“Kami tidak akan berhenti sampai ada pertanggung jawaban yang jelas! Jika hari ini kami tidak didengar, maka kami akan kembali lebih besar dan lebih kuat! Ini bukan sekadar aksi, ini adalah perlawanan,” ancam Andrew, denhan nada meninggi. (red)
REDAKTUR : Rukli R OmCos
Langsung ke konten














