banner 970x250
banner 970x250 banner 325x300
OPINI

Sosok Jenderal Yusuf Dimata Prabowo Subianto

160
banner 970x250 banner 970x250

Rumah Gelap, Tanpa Pengawal, Ajudan dan Sopir

banner 468x60

MEDIAKTUAL.COM – JAKARTA :

Sahabat sekalian, sedikit banyak pribadi-pribadi yang saya temui semasa hidup memberikan banyak pelajaran penting dan membentuk saya seperti sekarang ini. 

Salah satunya pribadi yang saya kagumi adalah Jenderal TNI (Purn) Muhammad Jusuf. Beliau salah satu panglima TNI yang saya kagumi, pada saat beliau panglima sekitar tahun 1978-an, saya masih perwira muda. Beliau Menhankam Pangab waktu saya Letnan, waktu saya Komandan Kompi.

Beliau yang saya kenal merupakan sosok yang perhatian kepada pasukannya, bahkan dikatakan hampir tidak pernah di kantor, karena selalu keliling mengunjungi pasukannya di daerah operasi.

Suata saat beliau pernah mengunjungi kompi saya di Cijantung dan beliau tanya apa kekurangan kompi saya.

Pada waktu itu, kebetulan kami masih mandi di Sungai Ciliwung, jadi yang saya laporkan adalah kekurangan pasokan air bersih untuk keperluan pasukan.

Akhirnya, pada waktu itu ada asisten logistik, namanya Pak Kasenda, beliau diminta Pak Jusuf untuk mencatat dan memerintahkan untuk menyiapkan pompa air dan menara air untuk keperluan air bersih bagi pasukan saya.

Sebagai seorang pemimpin, beliau sangat detil kepada hal-hal kecil terutama untuk kebutuhan pasukannya, karena itu kira-kira 2 bulan kemudian, beliau kembali ke kompi saya dan menanyakan apakah keperluan air bersih, seperti pompa dan menara air, untuk pasukan sudah tersedia.

“Bagaimana Prabowo? sudah ada pompa airnya? Menara? tanya Pak Jusuf kepada saya. “Siap, sudah!” jawab saya.

Singkat cerita, sewaktu saya Brigjen, beliau sudah pensiun. Begitu saya menjadi Brigjen, tentunya saya lapor ke Pak Harto, Pak Mitro, orang tua saya dan lapor ke Pak Jusuf.

Saya minta waktu untuk menghadap beliau. Yang berkesan bagi saya, ketika saya menghadap ke rumah beliau di Teuku Umar, pukul 7 malam, rumah beliau begitu gelap dan tanpa adanya pengawal, ajudan dan supir.

Saya pun mengetuk pintu beliau dan dibuka oleh seorang pembantu, ruang tamunya gelap, sewaktu saya masuk baru dinyalakan.

Saya pun bertanya, “oh gelap tiap malam, bu?” “ohiya, yang lampunya dinyalakan hanya ruang bapak dan ibu dan di dapur tempat kami,”

Momen mengharukan adalah ketika saya duduk, saya lihat ruang tamunya tidak ada perubahan sama persis seperti 15 tahun yang lalu saya menghadap beliau, sewaktu saya masih menjadi kapten.

Tata ruangnya, perabotannya, letak-letaknya dan yang mengharukan adalah saya lihat kursinya itu di bagian senderan tangan sudah mulai robek-robek, berarti tidak pernah diperbaiki ataupun diganti. Artinya beliau ini hidup benar-benar dari uang pensiun dan tabungannya.

Beliau ini 11 tahun jadi Menteri Perindustrian, 5 tahun Menhankam Pangab. Saya kira Pak Jusuf itu kalau menghendaki, ketika beliau menjadi Menteri Perindustrian, mungki satu tanda tangan untuk mendirikan izin pabrik ini itu, beliau sudah dapat berapa? Tapi saking dihormatinya, ya itulah beliau.

Dan katanya, ketika beliau pensiun banyak pengusaha-pengusaha yang merasa beliau tidak pernah minta apa-apa menawarkan “apa yang bisa kami buat untuk bapak?”, namun Pak Jusuf hanya meminta dibangunkan masjid di Makassar dan rumah sakit untuk masyarakat.

Beliau merupakan sosok tauladan nyata yang pernah menjadi guru di hidup saya. Beliau mengajarkan bukan hanya dari perkataan, namun diperlihatkan di dalam kehidupannya.

Beliau adalah jenderal yang bersih, jujur, cerdas, tegas, yang dicintai rakyat dan prajuritnya dan sosok pemimpin yang luar biasa.(r/red)

banner 970x250 banner 970x250