Suporter AREMANIA Tak Siap Kalah, Kanjuruhan Rusuh
MEDIAKTUAL.COM – MALANG :
Prihatin dan memiriskan hati. Itulah tragedi membuncah di Stadion Kanjuruhan Malang Jawa Timur, Sabtu 1 Oktober 2022.
Gegara Arema FC kalah melawan Persebaya Surabaya, pada laga lanjutan Liga 1, suporter AREMANIA ngamuk dan membabi buta menyerang para pemain dan ofisional yang tengah dievakuasi personel kepolisian dan TNI.
Intinya, AREMANIA merasa tidak puas hingga melampiaskan kekecewaan dengan nekat berbuat anarkis.
Merasa terdesak dan kewalahan menghadapi suporter Arenania yang kian beringas, membuat ribuan aparat keamanan pun berupaya memblokade tapi kegeraman massa tak mampu dibendung.
Dari amukan suporter itu, salah satu langkah mesti diambik aparat keamanan yakni menembakkan gas air mata.

Ket.Gambar : Sejumlah pecinta PSM Makassar prihatin dan menyayangkan tragedi rusuh suporter AREMANIA Stadion Kanjuruhan Malang. Gegara fanatisme berlebih, terenggut ratusan nyawa, Astagafirullah.(dok)
——————————————————
Tak dinyana, semburan gas air mata itu justeru berbuah petaka lantaran suporter banyak yang mengalami sesak nafas atau kehabisan oksigen hingga maut menjempunya (tewas).
Dalam hitungan menit, situasi area Kanjuruhan mencekam bak neraka.
Dalam stadion, puluhan mayat bergelimpangan, berbagai fasilitas lapangan rusak termasuk puluhan kendaraan aparat keamanan pun hangus dibakar suporter.
Ikwal tragedi itu, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta mengakui, tidak semua suporter bertindak anarkistis, kecuali yang langsung turun ke lapangan dan terjebak untuk keluar sementara pintu tertutup hingga banyak yang saling injak-menginjak.
Disebutkan, korban yang meninggal berjumlah 127 orang.
Sementara, korban luka-luka yang tengah menjalani perawatan mencapai 200-an orang.
Mirisnya, ratusan supporter yang tewas itu, juga senasib dengan meninggalnya dua orang polisi yang tengah berusaha mencegah aksi kerusuhan.
Selain merenggut ratusan nyawa, anarkisme di Stadion Kanjuruhan ini juga merusak sedikitnya 13 unit kendaraan, termasuk 10 kendaraan operesioanal milik Polri.
Atas tragedi nasional ini, Presiden Jokowi Widodo meminta Kapolri, Menpora dan Ketua PSSI untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh.
Warning presiden tersebut, setidaknya bisa dianalisis dan memantik sejumlah pertanyaan, apakah sistem pengamanan sudah sesuai dengan prosedur (SOP), memenuhi standar penjualan tiket atau over kapasitas hingga tembus 42.000 ribu penonton dan bagaimana regulasi/aturan FIFA terkait penggunaan gas air mata aparat keamanan ketika massa supporter bertindak anarkis.

Jawabnya tentu masih gamang. Bisa benar bisa pula melenceng atau keliru.
Singkatnya, dari tragedi rusuh Kanjuruhan ini, sejumlah pengamat, pemerhati, pecinta dan pelaku sepak bola di tanah air berharap, kompetisi Liga 1, Liga dan Liga 3 tetap digelar dan berjalan seperti biasa sesuai dengan rundown yang sudah ada.
Jikalau memang petaka maut ini akan dikenakan sanksi, ya wajar diberikan tetapi cukup hukuman untuk tim atau klub yang memicu seteru yakni AREMA FC dan PERSEBAYA SURABAYA.
Kedua tim, bisa disanksi bertanding tanpa penonton, tidak diikutkan lagi selama beberapa tahun menjadi peserta Liga 1 atau mendapat hukuman turun berlaga di Liga 2.
Sementara, untuk laga lanjutan bagi tim atau klub lain yang selalu menjaga marwah dan komitmen ‘Fair Play’ mestilah berlanjut dan berjalan seperti biasa.
Jangan sampai, hanya gegara insiden Kanjuruhan yang mencabut ratusan nyawa itu, toh kompetisi atau Liga Indonesia dipaksa untuk STOP.
Imbasnya, pasti bakal merugikan para pelatih dan pemain tanpa penghasilan, sementara mereka punya tanggungjawab untuk menghidupi keluarganya.
Demikian, laporan Jurnalis MEDIAKTUAL.COM dari Jawa Timur.(red)
JURNALIS : A.Ridwan Hafid
Langsung ke konten














