banner 970x250
banner 970x250 banner 325x300
DAERAH

Miris, Potret Kemiskinan Warga Jeneponto

38
banner 970x250 banner 970x250

MEDIAKTUAL.COM – JENEPONTO  :

banner 468x60

Tidak salah, jika data Badan Pusat Stastistik (BPS) Provinsi Sulsel menempatkan Kabupaten Jeneponto sebagai daerah TERMISKIN di Sulsel.

Salah satu paramaternya, bisa dilihat dari potret kehidupan masyarakat bawah yang kondisinya sangat miris dan memprihatinkan.

Tengok saja, pergulatan hidup yang tidak menentu dari keluarga sepasang suami istri bernama Marido dan Nus Hasana.

Pasutri ini, tinggal di sebuah rumah gubuk tidak layak huni yang tidak jauh dari rumah Kepala Lingkungan Tamanroya di Kampung Beru Kelurahan Tamaroya Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto,

Hasil pernikahannya, merekavdikaruniai dua orang anak yakni Atipatul Nur Hasana (6) dan  Risky Ilahi yang baru lahir beberapa hari.laku

Dengan kehidupannya yang serba kekurangan, keluarga ini sempat mendapat pelayanan gratis biaya persaliamnan di Bidan Pustu Tamanroya.

Kondisi rumahnya, sebagai tempat berteduh pun jauh dari kesan layak untuk ditempati.

Pasalnya, rumah yang berukuran 3X5 ini tidak hanya sempit.

Namun, bangunannya juga sewaktu-waktu rawan jika diterpa angin kencang.

Rumah milik Marido – Nur Hasana tersebut, tiangnya terbuat dari dahan pohon kayu api-api sebagai penyangga,.

Atapnya, pun belum tertupi secara keseluruhan terbuat dari plastik dan semua dindingnya terbuat dari anyaman bambu (gamacca).

Begitupun, papan lantai rumahnya semua terbuat dari bahan bambu.

Di dalam rumahnya itu, terlihat sebuah ranjang kayu yang diatasnya tertumpuk pakaian kotor, ada juga kasur, karpet dan tiga buah bantal yang sudah kusam dan beberapa peralatan dapur lainnya tidak terpakai.

“Ya begini mi kasihan keadaan rumah kami, saya berharap sekali semoga pemerintah memperhatikan kami supaya dapatka juga bantuan beda rumah, ” harap Marido saat ditemui wartawan, Jumat (23/9/2022).

Pria berkulit legam itu mengaku,  pekerjaan hari-harinya hanya berprofesi sebagai buruh nelayan yang pendapatannya tidak menentu, sedangkan istrinya Nur Hasana hanya Ibu Rumah Tangga (IRT).

Diakui, untuk belanja sehari-hari saja sangat sulit, kadang mengutang ditetangga untuk membeli kebutuhan pokok.

Bekum lagi, tanggungjawabnya untuk menghidupi dua orang anak yang masih bocah dan satu bayi.

“Saya juga kasihan sama istriku kalau ini anakku yang masih bayi butuh popok dan lain-lain,” keluh Marido seakan meratapi kondisi ekonominya.

Marido, juga sangat berharap anak pertamanya itu di sekolahkan namun karena serba keterbatasan sehingga ia tidak mampu membelikannya seragam.

“Saya juga mau kasih sekolah anaku tapi tidak ada seragamnya kasihan. Saya kasihan ini anakku,” tuturnya.

Untungnya, keluarga miskin ini mendapat program bansos PKH sebagai harapan penyambug hidup.

Intinya, satu kata yang menyembul dibenak Pasutri Marido – Nus Hasana, bagaimana mendapat belas kasihan dan perhatian khusus dari pemerintah untuk meringankan beban ekonomi keluarganya.(r/red)

EDITOR : AMD Wiranda

banner 970x250 banner 970x250