Bupati Iksan Bantah Jeneponto Termiskin
MEDIAKTUAL.COM – MAKASSAR :
Jeneponto daerah TERMISKIN di Sulsel, waduh…! Dimata masyarakat Turatea, pastilah prihatin dan miris mendengarnya.
Bagi Pemkab Jeneponto sendiri, inilah sebuah ‘tamparan’ keras bahwa pemerintahan saat ini (Iksan-Paris) dinilai gagal membangun dan mensejahterakan kehidupan rakyat Turatea.
Merujuk survei atau data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan per Maret 2022, ada lima daerah paling miskin di Sulsel.
Ironisnya, Jeneponto di urutan teratas dengan persentase 14,28 persen.
Gerah dengan predikat TERMISKIN yang setiap saat jadi ‘menu’ pergunjingan di warung kopi terlebih dimedia sosial, toh Bupati Jeneponto Iksan Iskandar pun angkat bicara.
Dihadapan para awak media, mantan Sekda Jeneponto era pemerintahan Alm.Rajamilo itu membantah keras jika daerah berjuluk Butta Turatea itu paling TERMISKIN di Sulsel.
Menurutnya, data yang dikeluarkan oleh pihak BPS sangat keliru.
Iksan menyebut, BPS hanya melakukan sampling data tunggal, yang sumber indikator adalah penerima bantuan sosial.
“Tanya statistik kalau itu pertanyaanmu, karena kan yang dijadikan sampel atau data adalah penerima bantuan,” tampiknya dengan nada meninggi, Senin 20 Juni 2022.
Bupati dua periode itupun menilai, BPS sejauh ini hanya dianggap melakukan pola sinkronisasi dengan data desa.
Padahal, katanya, data desa saja terkadang kurang valid.
“Yang menerima bantuan didesa adalah datanya dari desa. Anda tidak tahu bagaimana tidak akuratnya itu data karena data-data itu meskipun orangnya tidak layak miskin dikasi masuki orang layak diberi bantuan,” timpal Iksan Iskandar.
Lebih menggelitik hati bupati, lantaran dirinya belum tahu indikator apa yang digunakan BPS sehingga menyebut Jeneponto menjadi daerah termiskin.
“Indikator apa napake? Kan dia hitung cuman itu. Berapa banyak penerima bantuan. Itu dia yang jadi indikatornya sehingga saya juga tidak terlalu ini itu data,” katanya .
Iksan pun rada prihatin karena faktor dianggap daerahnya miskin gegara BPS selama ini hanya melakukan proses penelitian 5 tahun sekali.
“Hasil penelitiannya, metode penelitian kan hanya sekali dalam melakukan penelitian. Jadi anda sendiri yang tafsirkan bagaimana. Kan metode sumplingnya kan tidak bagus. Yang kedua jarak penelitiannya itu kan 5 tahun sekali,” bebernya.
Akibatnya, sorot bupati, data yang dikeluarkan oleh BPS sejauh ini tidak relevan. Bahkan, menjadi bahan pertanyaan ke BPS.
“Jadi kan bukan pemerintah daerah yang mengeluarkan ini data. BPS sendiri. Jadi tanyakan ke BPS. Saya juga akan tanyakan kenapa bisa begitu,” tandasnya.

Ket.Gambar : sebuah rumah warga Jeneponto yang tidak layak huni menjadi potret kemiskinan. Tak salah BPS merilis data Jeneponto urutan pertama sebagai daerah TERMISKIN di Sulsel, alamak…?(foto : mus/tt)
——————————————————-
Harapan Iksan Iskandar, mestinya pihak BPS sebelum mengeluarkan data terlebih dahulu harus melakukan perbandingan.
“Kita bandingkan coba kendaraan terbanyak didaerah selatan itu yang terbanyak ada Dijeneponto. Motor, mobil daftar tunggu haji cukup lama yakni 79 tahun. Kalau indikator itu kita pakai tidak mungkin kita termiskin,” terangnya.
Intinya, bupati mengaku belum tahu persis indikator apa yang digunakan BPS.
Pertanyaan publik pun menyeruak, faktor apa yang menjadi parameter dan patokan indikator BPS untuk menilai sebuah daerah TERMISKIN.
“Yah…mestinya memang BPS lebih terbuka dan detil memaparkan. Apakah faktor SDA kurang terkelola baik, minimnya kualitas SDM, kurang memberdayakan potensi yang ada, lemahnya kepemimpinan ataukah kepala daerah kurang kreatif dan inovatif. Ini harusnya dijelaskan,” ujar seorang pemerhati sosial dan pemerintahan, yang enggan ditulis namanya.
Untuk diketahui, Kabupaten Jeneponto berada di urutan pertama TERMISKIN dengan persentase 14,28 persen.
Selanjutnyal, Kabupaten Pangkep dengan persentase 14,28 persen, Luwu Utara 13,59 persen, Luwu 12,52 persen, dan Enrekang 12,47 persen.
Khusus Jeneponto, persentase kemiskinan mencapai 14,88 persen.
Angka ini, melampaui rata-rata kemiskinan Sulsel 8,69 persen. Juga di atas rata-rata nasional 9,82 persen.
Kepala BPD Sulsel Suntono mengatakan ada beberapa komoditas yang memberikan pengaruh terbesar terhadap garis kemiskinan (GK) di Sulsel. Hal ini juga memicu tingginya angka kemiskinan.
“Komoditas itu seperti beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, ikan bandeng, kue basah, dan mi instan,” ujarnya.
‘Ingat, jika angka kemiskinan ini meningkat dan tidak diperhatikan oleh pemerintah setempat, maka sudah dipastikan bahwa pemerintahan sudah gagal dalam memimpin daerahnya,” nilai seorang pengamat ekonomi di Kota Makassar.(r/red)
Langsung ke konten














