banner 970x250
banner 970x250 banner 325x300
BERITADAERAH

Lagi Jeneponto ‘TERMISKIN’ di Sulsel, Alamak..?

200
banner 970x250 banner 970x250

Ket.Gambar : Salah satu potret kehidupan warga miskin di Kecamatan Batang. Ini ‘PR’ berat mesti disikapi Pemkab Jeneponto untuk keluar dari predikat daerah termiskin di Sulsel.(scs)

banner 468x60

——————————————————-

MEDIAKTUAL.COM – MAKASSAR :

Belum dua tahun Pemkab Jeneponto gencar menggaungkan dan mengklaim daerahnya sudah keluar sebagai daerah TERTINGGAL di Indonesia, kini Jeneponto kembali diuji nyalinya untuk lebih berbenah gegara Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data bahwa Kabupaten Jeneponto masih tetap jadi pemuncak sebagai daerah TERMISKIN di Provinsi Sulsel. 

Apa hendak dikata, meski sebutan Termiskin itu memantik kesan ‘minor’ tapi itulah realitas mesti diterima pemerintah daerah, dalam hal ini pemerintahan yang dinakhodai Bupati Iksan Iskandar – Wabup Paris Yasir.

Sebagai Bupati Jeneponto dua periode, geliat Iksan Iskandar memaju-kembangkan Butta Turatea lumayan nampak.

Hanya saja, finishing touch yang kerap tidak mulus menuai hasil yang sempurna.

Artinya, diakui atau tidak, slogan dan jargon-jargon penyemangat kerja yang didengungkan selama ini Jeneponto ‘GAMMARA’ nyaris tak mujarab dengan hasil capaian yang sekian tahun didambakan rakyat Butta Turatea.

Sebut saja, mememuhi target mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terkait pengelolaan keuangan daerah, lebih-lebih lagi untuk meraih penghargaan ADIPURA di bidang kebersihan.

Berdasarkan data BPS, terkait kondisi daerah-daerah miskin iti, sontak mengusik pikiran Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman (ASS)

Tak pelak, dia meminta kepada sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk mengatasi kemiskinan yang terjadi di lima daerah termiskin di Sulsel.

Rinciannya, hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel per Maret 2022, menunjukan lma daerah paling miskin yakni adalah Kabupaten Jeneponto dengan persentase 14,28 persen.

Disusul Pangkep 14,28 persen, kemudian Luwu Utara dengan persentase 13,59 persen.

Selain itu, Kabupaten Luwu terdapat 12,52 persen dan selanjutnya Enrekang 12,47 persen.

“Ini mesti kita benahi dan diberi perhatian khusus, terutama Jeneponto untuk petani garam dan empang yang tidak pernah ada perubahan, tolong Dinas Pertanian ini diperhatikan,” tegas gubernur, Selasa 5 April 2022.

Menurutnya, dinas terkait harus segera dikerahkan untuk menjalankan program yang punya efek langsung terhadap ekonomi masyarakat, sehingga tingkat kemiskinan bisa tertangani di daerah itu.

“Daerah dengan tingkat kemiskinan paling parah di Sulsel, perlu dilakukan evaluasi dan intervensi segera oleh OPD terkait,” pinta ASS.

Ditekankan, mengatasi kemiskinan perlu melibatkan masyarakat sebagai subjeknya yakni harus dilakukan uji publik, konsultasi dengan melibatkan pihak yang telah eksis di sana.

“Selain dari akademisi, kita membuat desain harus orang lapangannya juga ikut untuk menanyakan angsung apa yang menjadi kebutuhan warga di sana,” katanya.

Gubernur lantas mengibaratkan, membuat program di daerah itu, seperti mendorong industri garam di Jeneponto, bisa dilakukan-diskusi publik untuk petani garam, apa yang menjadi kebutuhan mereka.

Lebih urgen lagi, harap Sudirman Sulaiman, mengatasi kemiskinan perlu melibatkan masyarakat sebagai subjek.

Pasalnya, kata dia,  yang menjadi masalah selama ini program yang berjalan di lapangan tidak sesuai realita.

“Saya harap Jeneponto bisa seperti itu, saya tidak mau membangun sesuatu yang fiktif, yang hanya memperlihatkan kemewahan tapi tidak bisa dipakai. Mereka harus memilih dan datang melihat kunjungan bawa petani-petani untuk cek yang mana bisa dipakai,” imbuhnya.


Terkait daerah-daerah miskin tersebut, Kepala BPS Sulsel Suntono menyebut sejumlah komoditas yang memberikan pengaruh terbesar terhadap garis kemiskinan (GK) di Sulsel.

Seperti, sebutnya, beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, ikan bandeng, kue basah dan mie instan.

Secara umum komoditas yang memberi pengaruh besar terhadap kemiskinan di pedesaan adalah makanan.

Sedangkan, di perkotaan lebih dipengaruhi oleh non-makanan.

Suntono mengurai bahwa garis kemiskinan terbagi atas dua yakni garis kemiskinan makanan dan non-makanan.

“Garis kemiskinan makanan menguasai kurang lebih 75 persen dari total garis kemiskinan. Jadi kalau garis kemiskinannya bergerak naik maka ini berpotensi meningkatkan penduduk miskin,” paparnya.

Beras, sebut Suntoni, memberi sumbangan terbesar 19,92 persen di perkotaan dan 25,84 persen di pedesaan.

Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK yakni 10,53 persen di perkotaan dan 11,92 persen di pedesaan.

Pada periode Maret 2021- September 2021 GK Sulsel naik sebesar 3,21 persen. Yakni dari Rp372.491 per kapita per bulan Maret 2021 menjadi Rp384,455 per kapita per bulan September 2021.


Khusus Kabupaten Pangkep, persentase penduduk miskinnya terus bertambah.

Bila tahun sebelumnya angka penduduk miskin di daerah ini hanya 13,96 persen maka tahun 2022 ini bertambah menjadi 14,28 persen.

“Nah ini menunjukkan selevel dengan angka kemiskinan di Jeneponto atau 48 ribu lebih penduduk miskin.,” rinci Kepala BPS Sulsel itu.

Lantas apa tanggapan Pemkab Jeneponto ?

Inilah yang belum terjawab. Pasalnya, Mediaktual.Com bebetapa kali berupaya menghubungi Bupati Jeneponto via telepon namun tidak aktif. (red)

PEWARTA : Mud Cuplis – Mat Rani – Rul Pawa – Samjaya

EDITOR : Tajuddin Ngawing

banner 970x250 banner 970x250