MEDIAKTUAL.COM – MAKASSAR :
Hari Jadi Kota Makassar, tanggal 9 November, tahun ini terasa berbeda.
Usia kota yang dijuluki Kota Anging Mammiri ini, genap berusia 414 tahun.
Tema peringatan tahun ini adalah “Recover untuk Masa Depan”, disesuaikan dengan semangat kebangkitan ekonomi melawan pandemi Covid-19.
Kepala UPT SPF SD Inpres Panaikang II/1, Bakhtiar, S.Pd, M.Pd menyampaikan bahwa peringatan Hari Jadi Kota Makassar di sekolahnya bisa menghadirkan suasana berbeda.
Pasalnya, guru-guru pada hari istimewa itu mengenakan busana daerah sesuai asal derahnya. Hj Zaenab, S.Pd, Zubaidah Lapi, S.Pd, M.Pd, dan Fajriani, S.Pd memakai baju adat Sengkang.
Ada pula yang pakai busana adat Jawa, Mandar, dan tentu saja Bugis-Makassar. Sedangkan, kepala sekolah, Bakhtiar, mengenakan jas tutup berwarna biru cerah.
Tak hanya guru, pederta didik pum ada yang datang ke sekolah memakai pakaian adat.
Orang tua tampak antusias mengantar anaknya yang mengenakan pakaian adat tersebut.
Untuk menghadirkan nuansa budaya lokal, dihidangkan penganan tradisional Sulsel berupa. Kue yang disediakan guru dan partisipasi orang tua murid.
Lewat wali kelas, disampaikan sekiranya ada orang tua yang mau membawa kue taripang yang terbuat dari beras ketan dan kelapa yang ditaburi gula aren.
“Jadi, kami, guru-guru, itu minum kopi sambil makan taripang, sebagaimana anjuran Pemkot Makassar,” kata Bakhtiar di ruang kerjanya, Rabu, 10 November 2021.
Juga, ada kue lain seperti roko-roko unti, roko-roko cangkuning, barongko, cucuru bayao, sanggara’ balanda, apang, putu cangkir dan boku cukke’.

Kue-kue itu diletakkan di atas nampan, sebelum dicicipi bersama.
Diakui Bakhtiar, momen ulang tahun Kota Makassar kali ini berbeda. Karena bukan hanya di sekolah saja orang minum kopi dan makan kue taripang tapi juga di RT/RW.
Perayaan HUT Kota Makassar ke-414, tahun ini, memang jadi momen untuk mengangkat budaya lokal, lewat kuliner dan busana yang dikenakan.
Kepada siswa yang sempat bertatap muka dengan guru, juga disampaikan tentang budaya dan perkembangan Kota Makassar yang kini menjadi Smart City. Pembelajaran hari itu merupakan bagian dari pendidikan karakter berbasis budaya lokal, Bugis-Makassar. (r/AH)
Langsung ke konten














