(Catatan Kehidupannya, Bag: 2)
Ket.Gambar : Soal prinsip, melekat teguh dalam diri Irwan Parawansa. Mungkin itulah menjadi titisan dari leluhur Karaeng Galesong.(dok)
MEDIAKTUAL.COM – MAKASSAR :
Sebagai seorang pendidik yang bersolo karir di dunia pendidikan, nama Irwan Parawansa tak asing lagi terngiang dimata masyarakat Sulsel, terkusus di Kota Makassar.
Yang spektakuler bahkan menjadi pembeda dari sekian banyak sosok pendidik, jejaring alias pergaulan Irwan lumayan luas dan mudah beradaptasi di semua level atau komunitas sosial.
Itulah yang membuat pria tengah ‘menjomblo’ ini piawai berkreasi dan berkarya di sejumlah bidang profesi.
Sebut saja, di dunia seni musik, teater, budaya, sastra puisi, olah raga bela diri, ormas, jurnalistik dan yang lainnya.
MENAPAKI DUNIA BARU
Tahun 1989 Irwan menapak dunia baru, sejak dinyatakan lolos seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS)
ia mengikuti pra jabatan.
Setelah itu ditempatkan di Kota Pare-pare dan diperbantukan di SMA Nasional, sekolah swasta milik Yayasan Nasional yang dipimpin Andi Dagong.
Irwan mengajar sebagai guru sejarah di tempat tugas baru, ini kali pertama berpisah dari orangtua.
Daerah dan lingkungan kerjanya masih asing, namun seniman yang piawai menuangkan rasa cintanya ke dalam puisi ini berhasil menjalin hubungan baik dengan teman-teman barunya, dengan para guru, demikian juga Kepala Sekolah, Abdul Jalil yang menyukai pribadi Irwan.
Lelaki tambun berjiwa sosial ini, memiliki banyak teman wanita, beberapa diantaranya menjadi wanita idaman.
Namun, karena
kehebatannya, sang flamboyan ini bisa menyamaratakan perhatian dan kasih sayangnya kepada
sahabat-sahabat wanitanya sehingga tidak menimbulkan kecemburuan.
Di kota yang berjarak sekira 200 kilometer dari Kota Makassar itu, Irwan tinggal.seorang diri di rumah
kos di Jalan Andi Makkasau.
Sesekali ia ke Makassar untuk melepas kerinduan pada keluarganya.
Berkat teman yang banyak, hari-hari dilalui Irwan dengan kesibukan bergaul selepas melaksanakan tugas mengajar, rasa kesepian pun bisa dihalau.
Apalagi, Parepare memang kota berpenduduk majemuk,
warganya ramah, kota transit yang selalu ramai oleh lalu-lintas manusia, bandar hasil bumi, kota
perniagaan di tengah Pulau Sulawesi.
Di sinilah mantan Presiden RI, BJ Habibie lahir dan dibesarkan yang
ditandai dengan patung kemesraan bersama istrinya Ainun.
TITISAN KARAENG GALESONG
Menjelang lima tahun bertugas sebagai guru di Pare-pare, semua berjalan lancar, niat untuk pindah
mengajar di Makasar selalu terbetik dihati.
Namun, mengurus birokrasi kepindahan bukanlah hal mudah,
apalagi masih berstatus pegawai baru.
Sikap rendah hati dan tak suka memamerkan keberadaan keluarganya menjadi karakter pribadinya.
Darah biru yang mengalir dalam dirinya sebagai titisan Karaeng Galesong, menampakkan sikap Irwan Parawansa Karaeng Sila yang bijak dan teguh dalam pendirian, seperti teguhnya sikap Karaeng Galesong yang menolak menandatangani Perjanjian Bungaya untuk berdamai dengan Kolonial Belanda,
VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) dan lebih memilih ke Jawa bersama pasukannya untuk
membantu perlawanan Pangeran Trunojoyo menghadapi Belanda.
Sebenarnya, bisa saja keinginan pindah itu dia perjuangkan dengan meminta bantuan pamannya yang
Rektor IKIP, Prof Dr Paturungi Parawansa atau pamannya yang Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) Provinsi Sulawesi Selatan, Drs HM Parawansa.
Akan tetapi, Irwan merasa risih menyampaikan hal-hal
yang sangat pribadi seperti itu.
“Biarkan hidup ini mengalir bak air di sungai, mengikuti kelokan dan curam, membentur batu dan batang kayu. Kelak, akan sampai.jua kemuara.
Inilah prinsip hidup Irwan, adik kandung H Indar Parawansa Karaeng Beta, suami dari Hj Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur, sehingga semua yang dianggap membebani perasaannya bisa dihadapi dengan tabah dan tawakkal.
Sifat pendiam dan sabar menjadi kesan pertama jika kita baru mengenalnya.
Namun sifat tenang itu seketika bisa berubah menjadi badai tat kala harga dirinya mulai terusik.(bersamb/red)
Langsung ke konten














