(Catatan Kehidupannya, Bag : 1)
Ket.Gambar : Sebagai pekerja seni, beginilah Style Irwan Parawansa yang tenang dan humanis, membacakan karya puisinya.(dok)
MEDIAKTUL.COM – MAKASSAR :
Namanya cukup dikenal dikalangan siswa dan guru SMA 1 Makassar, orang tua siswa pun demikian.
Kadang meminta nomor handphonenya hanya
untuk bisa berkomunikasi ikhwal keamanan anaknya di sekolah.
Dialah Irwan Parawansa, guru mata pelajaran sejarah, perawakannya tinggi besar, sepintas orang bisa keliru melihatnya dan menganggapnya sebagai
bodyguard karena memang postur dan gaya jalannya mirip bodyguard.
Bahkan, dengan mengenakan kacamata hitam dan batik khas Solo, orang mengira dia pasukan khusus Pengamanan Presiden (Paspampres).
Lelaki kelahiran Makassar, 19 April 1962 ini punya masa lalu yang unik, saat masih remaja ia menekuni olahraga tinju, bergabung disasana Rajawali Boxing Club (RBC) dipimpin Atong, dari tahun 1981 sampai 1985.
Putra kedua dari Djalaluddin Parawansa itu dua kali naik ring, pada open turnamen tinju di Gedung Olagraga Makassar berhasil menang KO (knok out) setelah menumbangkan lawannya.
Pada Wirabuana Cup menang RSC, lawannya menyerah ketakutan setelah merasakan kekuatan tinju Irwan dan memilih buang handuk.
LOLOS PNS
Irwan menyelesaikan study pada jurusan Sejarah, IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Makassar dengan hasil sangat memuaskan.
Secara kebetulan, pamannya, Prof Dr Paturungi Parawansa menjadi
rektor di perguruan tinggi tersebut.
Tahun 1988, Irwan yang kesehariannya disapa dengan panggilan Daeng Sila, ikut mendaftar seleksi guru Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) Sulawesi Selatan.
Beberapa pekan kemudian hasil seleksi itu diumumkan, Irwan meluapkan kegembiraan, hatinya sangat senang karena diantara ratusan calon guru yang lolos seleksi terdapat namanya.
Sebagai anak seorang kontraktor, Irwan yang juga masih berdarah bangsawan Takalar dari rumpun
keluarga Pahlawan Karaeng Galesong, meyakinkan dirinya bahwa inilah saatnya ia akan menikmati uang negara dari pengabdiannya sebagai guru.
Irwan dikenal dikalangan seniman Makassar, sejak masa remaja aktif berkecimpung di dunia teater, bergabung di Teater Tiga dan Teater Tambora Makassar. (bersamb/red)
Langsung ke konten














