Ket.Gambar : Direktur Utama PT.PLN (Persero) Zulkifli Zaini, yang mengakui saat ini kondisi kas sangat mengempes. (rep)
————————————————–
MEDIAKTUAL.COM – JAKARTA :
Kesan rugi dan terus merugi bahkan arus kas minim, sepertinya itu lagu klasik yang kerap didengungkan PT.PLN (Persero) setiap tahun.
Ironisnya, bagi masyarakat awam, jika mendengar kata keluhan ‘merugi’ justeru kebanyakan tidak percaya, dengan melihat tingkat kesejahteraan hidup para karyawan PLN, kondisinya lumayan ‘wah’ sangatlah mapan.
Pertanyaan yang menggelitik publik, sepanjang hadirnya perusahaan ‘plat merah’ itu–pernakah mempublikasikan diri akan laba atau keuntungan yang diraup setiap tahun ?
“Persoalannya disitu, kalau manajemen PLN merugi pasti heboh di media massa. Tapi, saat menikmati keuntungan besar, pernahkah menggelegar tidak ke publik,” sorot Rukli R, Aktivis LSM yang dikenal vokal di Sulsel.
Lantas, benarkah PT.PLN di tengah masa pandemi covid ‘ngos-ngosan’ dari segi duit ?
Jawabnya, itulah yang dicoba diyakinkan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Zulkifli Zaini, saat rapat bersama dengan Komisi VI DPR RI menceritakan kondisi keuangan perseroan dalam rapat bersama dengan Komisi VI DPR RI, Rabu 1 September 2021.
Diakuinya, saat ini arus kas PLN tidak cukup untuk membiayai investasi setiap tahunnya.
Makanya, diriut meminta dukungan penyertaan modal negara atau PMN.
“Karena cashflow PLN tidak cukup untuk biayai investasi Rp 100 triliun setiap tahun. Padahal, labanya hanya Rp 5 triliun,” aku Zulkifli.
Di masa lalu, beber Dirut PLN, investasi yang harus dikeluarkan PLN setiap tahun adalah sebesar Rp 120 triliun.
Angka itu, katanya, kemudian diturunkan menjadi Rp 100 triliun per tahun.
Zulkifli Zaini menyebut, Ppada tahun ini, alokasi investasi tersebut kembari diturunkan menjadi Rp 78 triliun.
Artinya, terang dia, dengan meminta PMN sebesar Rp 5 triliun pun, kebutuhan investasi itu masih belum tercukupi.
Sehingga, jelas Zulkifli, PLN harus merogoh kas sendiri, yang juga tidak cukup mendanai kebutuhan akhirnya perseroan pun meminjam ke bank.
“Jadi, kalau dilihat kenapa PLN punya pinjaman bank hampir Rp 500 triliun, karena cashflow PLN tidak cukup untuk biayai investasi Rp 100 triliun setiap tahun. Padahal labanya hanya Rp 5 triliun,” bebernya.

Dirut Zulkifli menyebut, PMN Rp 5 triliun itu pun masih di bawah permintaannya yaitu Rp 10 triliun.
Padahal, dia berpendapat bahwa dengan kebutuhan investasi Rp 100 triliun per tahun, maka semestinya PMN mencapai Rp 30 triliun setiap tahun.
“Bapak Ibu pasti tanya monopoli kok tidak bisa handle. Monopoli kalau utangnya tak terlalu besar ya pasti bisa handle. Kalau investasi Rp 100 triliun, PNM hanya Rp 5 triliun ya repot. kalau Rp 100 triliun investasinya, mungkin PMN-nya Rp 30 triliun setiap tahun,” katanya.
Di sisi lain, untuk memperbaiki arus kas PLN, salah satu solusinya adalah dengan menaikkan tarif listrik. dengan demikian antara tarif dan biaya produksi menghasilkan margin yang sedikit besar.
Namun, sebutnya, kenaikan tarif itu tidak dimungkinkan dalam situasi saat ini.
“Jadi, saya ingin sharing, bahwa kita investasi Rp 75 triliun. Bapak Ibu beri PMN Rp 5 triliun, selisihnya kan Rp 70 triliun. Dengan segala hormat, kami harus selalu pinjam dari luar. Dari bank dan lain-lain. Jadi itu lah situasi PLN saat ini,” tutur Dirut Zulkifli Zaini.(bs/red)
KORLIP : Saiful Emba
REDAKTUR : Mustafa
Langsung ke konten














